WONOSOBO, JAWA TENGAH — Desa Trimulyo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, terus mendorong penguatan ekonomi desa melalui pemanfaatan potensi lokal berbasis lingkungan. Berangkat dari karakter desa agraris, Trimulyo kini mengembangkan peran ekonomi baru dengan mengelola limbah serbuk kayu sebagai bagian dari rantai industri energi biomassa.
Secara historis, Trimulyo tumbuh sebagai desa pertanian yang mengandalkan lahan sawah, ladang, dan pekarangan. Komoditas seperti padi, singkong, pisang, dan kelapa menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Di beberapa wilayah dusun, peternakan dan perikanan air tawar turut berkembang sebagai mata pencaharian tambahan, menyesuaikan kondisi geografis perbukitan yang dimiliki desa.
Dalam menghadapi keterbatasan lapangan kerja non-pertanian, pemerintah desa bersama masyarakat mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai penggerak ekonomi alternatif. Salah satu unit usaha yang dikembangkan adalah pengolahan awal limbah serbuk kayu, yang berlokasi di Dusun Gawaran, RT 3 RW 1.
Bahan baku usaha ini berasal dari sampah sisa produksi pabrik kayu yang sebelumnya tidak terpakai. Limbah tersebut kemudian diolah menggunakan mesin conveyor untuk dihancurkan dan diseragamkan menjadi serbuk kayu. Setelah melalui proses pengolahan awal, serbuk kayu dikumpulkan dan dimuat ke dalam satu truk untuk kemudian dipasarkan ke sejumlah wilayah, seperti Wonosobo dan Purworejo, sebagai bahan baku industri wood pellet.
Dalam skema ini, BUMDes Trimulyo menempati posisi sebagai penyedia produk setengah jadi, yakni pengolah awal limbah kayu sebelum masuk ke tahap produksi lanjutan. Model ini dinilai realistis dan efisien, karena desa belum perlu menanggung kebutuhan investasi besar untuk mesin produksi wood pellet, namun tetap memperoleh nilai ekonomi dari proses pengolahan awal limbah.
Selain membuka peluang kerja bagi warga sekitar, terutama di Dusun Gawaran, kegiatan ini juga berkontribusi pada pengurangan limbah dan penataan lingkungan desa. Limbah kayu yang sebelumnya tidak bernilai kini menjadi sumber pendapatan dan bagian dari rantai ekonomi yang lebih luas.
Di sisi lain, model usaha ini menyimpan potensi pengembangan ke depan. Dengan ketersediaan bahan baku, pengalaman pengolahan awal, serta jaringan distribusi yang mulai terbentuk, Desa Trimulyo memiliki peluang untuk meningkatkan posisi usahanya dari produk setengah jadi menuju produksi wood pellet secara mandiri apabila didukung oleh permodalan, teknologi, dan kemitraan yang memadai.
Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Trimulyo tetap menjadi fondasi utama dalam proses pembangunan desa. Nilai gotong royong, musyawarah, dan partisipasi aktif warga dalam kegiatan ekonomi desa menjadi modal sosial penting dalam mendukung keberlanjutan unit usaha BUMDes.
Dengan mengintegrasikan sektor pertanian, pengelolaan limbah kayu, serta peran BUMDes sebagai simpul ekonomi desa, Trimulyo menunjukkan arah pembangunan yang adaptif dan berorientasi jangka panjang. Upaya ini menjadi contoh bagaimana desa agraris dapat bertransformasi melalui inovasi sederhana, namun berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.